Sabtu, 18 Desember 2010

Pelayanan Pendidikan Tuna Daksa


Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan bagi anak tidak selalu harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tuna daksa) pendidikannya dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tuna daksa dan lingkungannya.
Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984) menjelaskan system layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk anak tuna daksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan disuatu rumah sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tuna daksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tuna daksa memiliki problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang anak tuna daksa yang satu dengan anak tuna daksa yang lainnya, tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya.
Atas dasar kondisi anak tuna daksa tersebut, maka model pelayanan pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah Terpadu/Inklusi”.
a. Sekolah Khusus Pelayanan pendidikan bagi anak tuna daksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya
Pelayanan pendidikan di sekolah khusus ini dibagi menjadi dua unit, yaitu
unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa ringan, dan unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa sedang. Sekolah Khusus Untuk Anak Tuna Daksa Ringan (SLB-D) Pelayanan pendidikan diunit tuna daksa ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tuna daksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tuna daksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal.
Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tuna daksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajat kecacatannya terlalu berat. Sekolah Khusus untuk Anak Tuna daksa Sedang (SLB-D1) Pelayanan pendidikan di unit ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa yang mempunyai problema seperti emosi, persepsi atau campuran dari ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak tuna daksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak normal.
Sekolah Terpadu/Inklusi Bagi anak tuna daksa dengan problema penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah reguler/sekolah umum. Karena anak tuna daksa tersebut sudah dapat mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya. Walaupun kondisi penyerta anak tuna daksa cukup ringan, sekolah reguler yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau tangga-tangga.
Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tuna daksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tuna daksa dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar